Pengertian
Dan Metode Penalaran Menurut Para Ahli
Sesuai dengan kodratnya, manusia
dibekali dengan hasrat ingin tahu. Hasrat ingin tahu dalam diri manusia akan
selalu memunculkan berbagai macam pertanyaan. Sebagai akibatnya, manusia juga
selalu berusaha mencari jawaban terhadap pertanyaan yang muncul tadi. Hasrat
ingin tahu tersebut akan terpenuhi apabila manusia memperoleh pengetahuan baru
atau mampu memecahkan masalah sebagai jawaban atas pertanyaan-pertanyaan
sendiri.
Biasanya manusia selalu berpikir jika
berhadapan dengan banyak permasalahan. Akan tetapi, tidak semua masalah membuat
kita terdorong untuk memikirkannya secara sungguh-sungguh. Kegiatan berpikir
tentang sesuatu secara sunguh-sungguh dan logis inilah yang disebut Penalaran
Pengertian Proposisi dan
Jenis Proposisi
Proposisi adalah satu tutur atau pernyataan yang melukiskan
beberapa keadaan yang belum tentu benar atau salah dalam bentuk sebuah kalimat
berita. Proposisi adalah istilah yang dipergunakan dalam analisis logika.
Keadaan dan peristiwa-peristiwa itu pada umumnya melibatkan pribadi atau orang
yang dirujuk oleh ujaran dalam kalimat. Kebenaran sebuah proposisi
berkorespondensi dengan fakta. Sebuah proposisi
yang salah tidak berkorespondensi dengan fakta. Proposisi terdiri atas empat unsur, dua di
antaranya merupakan materi pokok proposisi, sedangkan dua yang lain sebagai hal
yang menyertainya. Empat unsur yang dimaksudkan adalah term sebagai subjek,
term sebagai predikat, kopula, dan kuantor
Penalaran secara inferensi
Inferensi
merupakan intisari informasi baru yang bersifat implisit dan eksplisit dari
informasi yang diberikan (Cummings, 1999). Proses inferensi terjadi ketika
dalam proses yang dapat digunakan oleh lawan bicara untuk memperoleh
implikatur-implikatur dari ujaran penutur yang dikombinasikan dengan ciri
konteks pada dasarnya merupakan proses inferensi. Konteks implikatur diperoleh
bukan diberikan tetapi diciptakan. Hal ini merupakan pernyataan utama teori
relevansi. (Cruse, 2000) berkomentar bahwa konteks yang benar untuk
menginterpretasikan ujaran tidak diberikan sebelumnya, melainkan pendengar
memilih konteks dengan sendirinya.
Inferensi
terdiri dari tiga hal, yaitu inferensi deduktif, inferensi elaboratif, dan
inferensi percakapan (Cummings, 1999). Lebih detail dijelaskan bahwa inferensi
deduktif memiliki tiga tipe silogisme, yaitu ‘all’ dan ‘some’ baik afirmatif,
maupun negatif. Inferensi deduktif memiliki kaitan dengan makna semantik.
Implikatur percakapan, pra-anggapan, dan sejumlah konsep lain memuat kegiatan
inferensi. inferensi dapat diperoleh dari kaidah deduktif logika dan dari makna
semantik item leksikal. Inferensi menggunakan penalaran deduksi dalam kegiatan
penalaran dan interpretasi ujaran.
Inferensi
elaboratif sangat terkait dengan pengetahuan ekstralinguistik penutur bahasa.
Inferensi ini menemukan adanya pengaruh pengetahuan dan informasi kognisi. Pada
tahun 1991, pakar inteligensi artifisial Johnson-Laird dan Byrne (dalam
Cummings, 1999) merumuskan tahap deduksi dalam teori model-model mental adalah
:
(a) premis dan pengetahuan umum,
(b) pemahaman,
(c) model,
(d) deskripsi,
(e) simpulan terduga,
(f) validasi, dan
(g) simpulan valid.
Inferensi
elaboratif memiliki peran dalam interpretasi ujaran. Cummings (1999)
menggambarkan adanya integrasi interpretasi ujaran dari tiga subkomponen yang
berpa abstrak (pengetahuan dunia), abstrak (pengetahuan komunikatif), dan
fungsional (interferensi elaboratif). Namun oleh ahli pragmatik, kajian
terhadap kelompok-kelompok inferensi ini bisa saja diabaikan karena para pakar
inferensi elaboratif sebagian besar dari kalangan psikologi. Pakar pragmatik
mengabaikan inferensi elaboratif tersebut dengan alasan disipliner ilmu.
Inferensi
percakapan dapat terjadi dalam tuturan/ percakapan. Grice (1975) dalam artikel
‘Logic and Conversation’ menyatakan bahwa tuturan dapat berimplikasi proposisi
yang bukan merupakan bagian dari tuturan tersebut, atau disebut implikatur
percakapan. Grice memandang bahwa proses yang digunakan untuk menemukan
kembali implikatur dalam percakapan sangat kabur. Sperber & Wilson (1991)
mengemukakan bahwa penjelasan Grice sendiri tentang proses derivasi
(pemerolehan) agak luas. Untuk mengetahui implikatur percakapan harus diteliti
meskipun dapat diahampi secara intuitif. Argumen merupakan manifestasi proses
bawah sadar secara publik dapat digunakan pendengar untuk menemukan kembali
implikatur percakapan.
Penalaran secara implikasi
Implikasi adalah sesuatu yang
telah tersimpul atau disimpulkan didalam suatu penelitian.implikasi selalu
dihubungkan dengan kesimpulan dan saran dalam sebuah penelitian. Implikasi
berfungsi untuk membandingkan hasil penelitian yang baru saja dilakukan. Ada 3 jenis
implikasi :
Implikasi teoritis
Seorang
penelitian menyajikan gambar secara lengkap mengenai implikasi teoritis dari
sebuah penelitian dengan tujuan untuk meyakinkan penguji pada kontribusi ilmu
pengetahuan maupun teori yang digunakan dalam menyelesaikan sebuah masalah
penelitian.
Implikasi manajerial
Peneliti
menyajikan implikasi tentang berbagai kebijakan yang dihubungkan dengan
berbagai macam temuan yang diperoleh dari sebuah penelitian. Implikasi ini dapat
memberikan suatu kontribusi yang praktis untuk manajemen.
Implikasi metodologi
Bersifat
operasional dan mampu menyajikan refleksi penulis mengenai metodologi yang akan
dipakai dalam penelitian yang telah dilakukan. Sebuah penelitian mampu
menyajikan pendekatan-pendekatan yang bisa dipakai dalam sebuah penelitian
lanjutan dan penelitian lain dengan fungsi mempermudah atau meningkatkan mutu
dari penelitian itu sendiri.
Penalaran secara Evidensi
Unsur yang
paling penting dalam suatu tulisan argumentative adalah evidensi. Pada hakikatnya evidensi adalah semua fakta yang ada, semua kesaksian,
semua informasi, atau autoritas dan sebagainya yang di hubung-hubungkan untuk
membuktikan suatu kebenaran.
Fakta dalam kedudukan sebagai efidensi tidak boleh
dicampur adukkan dengan apa yang dikenal sebagai pernyataan dan penegasan. Pernyataan
tidak mempunyai pengaruh apa-apa terhadap sebuah evidensi, ia hanya sekedar
menegaskan apakah fakta itu benar atau tidak. Dalam argumentasi, seorang
penulis boleh mengandalkan argumentasinya pada pernyataan saja, bila ia
menganggap pendengar sudah mengetahui fakta-faktanya, serta memahami sepenuhnya
kesimpulan-kesimpulan yang diturunkan daripadanya.
Dalam wujudnya yang paling rendah evidensi itu
berbentuk data dan informasi. Yang dimaksud
dengan data atau informasi adalah bahan keterangan yang
diperoleh dari suatu sumber tertentu.
Biasanya semua bahan informasi berupa statistik, dan
keterangan-keterangan yang dikumpulkan, semuanya dimasukkan ke dalam pengertian data daninformasi.
Untuk itu penulis atau pembicara harus mengadakan pengujian atas data dan
informasi tersebut, apakah semua bahan keterangan itu merupakan fakta.
Cara menguji data
Data dan
informasi yang digunakan dalam penalaran harus merupakan fakta. Oleh karena itu
perlu diadakan pengujian melalui cara tertentu sehingga bahan yang merupakan
fakta itu siap digunakan sebagai evidensi. Dibawah ini beberapa cara yang dapat
digunakan untuk pengujian tersebut.
Observasi
Fakta-fakta
yang telah diajukan sebagai evidensi mungkin belum memuaskan seseorang
pengarang atau penulis. Untuk lebih meyakinkan dirinya sendiri dan sekaligus
dapat menggunakannya sebaik-baiknya dalam usaha menyakinkan para pembaca, maka
kadang-kadang pengarang merasa perlu untuk mengadakan peninjauan atau observasi
singkat untuk mengecek data atau informasi itu dan sesungguhnya dalam beberapa
banyak hal pernyataan-pernyataan yang diberikan oleh seseorang, biasanya
didasarkan pula atas observasi yang telah diadakan.
Kesaksian
Keharusan menguji data dan informasi, tidak selalu
harus diakukan dengan observasi. Kadang-kadang sangat sulit untuk mengharuskan
seseorang mengadakan observasi atas obyek yang akan dibicarakan. Kesulitan itu
terjadi karena waktu, tempat, dan biaya yang harus di keluarkan. Untuk
mengatasi hal itu penulis atau pengarang dapat melakukan pengujian dan meminta
kesaksian atau keterangan dari orang lain, yang telah mengalami sendiri atau
menyelidiki sendiri persoalan itu. Demikian pula halnya dengan penulis dan
pengarang atau penulis, untuk memperkuat evidensinya mereka dapat mempergunakan
kesaksian orang lain yang telah mengalami peristiwa tersebut.
Autoritas
Cara ketiga yang dapat dipergunakan untuk menguji
fakta dalam usaha menyusun evidensi adalah meminta pendapat dari suatu
autoritas, yakni pendapat dari seorang ahli, atau mereka yang telah menyelidiki
fakta-fakta itu dengan cermat, memperhatikan semua kesaksian, menilai semua
fakta kemudian memberikan pendapat mereka sesuai dengan keahlian mereka dalam
bidang itu.
Cara menguji Fakta
Untuk menetapkan apakah data atau informasi yang kita
peroleh itu merupakan fakta, maka harus diadakan penilaian. Penilaian tersebut
baru merupakan penilaian tingkat pertama untuk mendapatkan keyakinan bahwa
semua bahan itu adalah fakta, setelah itu harus dilakukan penilaian kedua yaitu
dari semua fakta tersebut dapat digunakan sehingga benar – benar memperkuat
kesimpulan yang akan diambil.
Cara yang diambil yaitu melalui :
Konsistensi
Dasar pertama yang harus dipakai untuk menetapkan
fakta mana yang akan dipakai sebagai evidensi
adalah konsistenan. Sebuah argumentasi akan kuat dan mempunyai tenaga
persuasif yang tinggi, kalau evidensi-evidensinya bersifat konsisten, tidak ada
suatu evidensi bertentangan atau melemahkan evidensi yang lain.
Koherensi
Dasar kedua yang dapat dipakai untuk mengadakan
penilaian atau fakta mana yang dapat dipergunakan sebagai evidensi adalah
masalah koherensi.Semua fakta yang akan digunakan sebagai evidensi harus
pula koherendengan pengalaman-pengalaman manusia, atau sesuai dengan
pandangan atau sikap yang berlaku.
Cara menilai autoritis
Penulis
yang baik akan membedakan pula apa yang hanya merupakan pendapat saja atau
pendapat yang sungguh-sungguh didasarkan atas penelitian atau data
eksperimental.
Melalui penilaian sebagai berikut :
Tidak mengandung prasangka
Pengalaman dan pendidikan autoritas
Kemansyuran dan prestise
Kohorensi dengan kemajuan
PENALARAN DEDUKTIF, SILOGISME, ENTIMEN
Dalam berbahasa sehari-hari ataupun secara formal, dalam bentuk tulisan
maupun lisan, pernalaran yang tepat perlu digunakan. Khususnya dalam penulisan,
kita harus berpikir, menghubung-hubungkan berbagai fakta, membandingkan dan
sebagainya supaya bisa menarik kesimpulan yang tepat. Cara menarik kesimpulan
dari pernalaran dibagi menjadi dua, yaitu pernalaran deduktif dan pernalaran
induktif. Namun pada kesempatan ini saya hanya akan mengulas mengenai
pernalaran deduktif dan bentuk-bentuknya (silogisme dan entimen).
PERNALARAN DEDUKTIF
Pernalaran deduktif merupakan metode untuk menarik kesimpulan dengan
menhubungkan data-data yang bersifat umum, kemudian dijadikan suatu simpulan
atau fakta yang khusus.
Contoh:
Premis 1 = Semua makhluk adalah ciptaan Tuhan. (U)
Premis 2 = Manusia adalah makhluk hidup. (U)
Simpulan = Manusia adalah makhluk ciptaan Tuhan. (K)
Dapat dilihat dari contoh diatas bahwa pernalaran ini dimulai dengan suatu
premis (pernyataan dasar) untuk menarik kesimpulan. Kesimpulannya
merupakan implikasi pernyataan dasar itu. Artinya apa yang dikemukakan di dalam
kesimpulan secara tersirat telah ada di dalam pernyataan tersebut.
Jadi sebenarnya proses deduksi ini tidak menghasilkan suatu pengetahuan
yang baru, melainkan pernyataan kesimpulan yang konsisten berdasarkan
pernyataan dasarnya.
BENTUK PERNALARAN DEDUKTIF
Menurut bentuknya, pernalaran deduktif dibagi menjadi dua yaitu:
Silogisme, dan
Entimen.
Silogisme
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, silogisme adalah bentuk, cara
berpikir atau menarik simpulan yang terdiri atas premis umum, premis khusus,
dan simpulan. Silogisme merupakan suatu cara pernalaran yang formal. Namun,
bentuk pernalaran ini jarang dilakukan dalam komunikasi sehari-hari. Yang
sering dijumpai hanyalah pemakaian polanya, meskipun secara tidak sadar.
Contoh pola silogisme yang standar:
(A) Premis mayor = Semua manusia akan mati.
(B) Premis minor = Si A adalah manusia.
(C) Simpulan = Si A akan mati.
Secara singkat silogisme dapat dituliskan:
Jika A=B dan B=C maka A=C
Silogisme terdiri dari:
· Silogisme Kategorial
· Silogisme Hipotesis
· Silogisme Disjungtif
Sebelum mengulas satu per satu bentuk, perlu diketahui beberapa istilah
berikut:
Proposisi : kalimat logika yang merupakan pernyataan tentang hubungan
antara dua atau beberapa hal yang dapat dinilai benar atau salah.
Term : adalah suatu kata atau kelompok kata yang menempati fungsi subjek
(S) atau predikat (P).
Term minor : adalah subjek pada simpulan.
Term menengah : menghubungkan term mayor dengan term minor dan tidak boleh
terdapat pada simpulan.
Silogisme Kategorial
Adalah silogisme yang semua proposisinya merupakan katagorik. Proposisi
yang mendukung silogisme disebut dengan premis yang kemudian dapat dibedakan
dengan premis mayor (premis yang termnya menjadi predikat), dan premis minor
(premis yang termnya menjadi subjek). Yang menghubungkan diantara kedua premis
tersebut adalah term penengah (middle term).
Adapun menurut KBBI simpulan berdasarkan silogisme kategorial adalah
keputusan yg sama sekali tanpa berdasarkan syarat.
Silogisme Hipotesis
Silogisme hipotetis adalah argumen yang premis mayornya berupa proposisi
hipotetik, sedangkan premis minornya adalah proposisi katagorik.
Adapun menurut KBBI silogisme hipotesis merupakan penarikan simpulan atau
keputusan yg kebenarannya berdasarkan syarat tertentu.
Silogisme Disjungtif
Adalah silogisme yang premis mayornya keputusan disjungtif sedangkan premis
minornya kategorik yang mengakui atau mengingkari salah satu alternatif yang
disebut oleh premis mayor.
Adapun menurut KBBI silogisme disjungtif ini merupakan penarikan simpulan
atau keputusan berdasarkan beberapa kemungkinan kebenaran pernyataan, tetapi
hanya salah satu pernyataan yg benar.
Silogisme ini terdiri dari dua macam: silogisme disjungtif dalam arti
sempit dan silogisme disjungtif dalam arti luas.
Silogisme disjungtif dalam arti sempit mayornya mempunyai alternatif
kontradiktif.
Entimen
Praktek nyata berbahasa dengan pola silogisme memang jarang dijumpai dalam
kehidupan sehari-hari, baik tulisan maupun lisan. Namun entimen (yang pada
dasarnya adalah pola silogisme) sering dijumpai pemakaiannya. Di dalam entimen
salah satu premisnya dihilangkan atau tidak diucapkan karena sudah sama-sama
diketahui.
Contoh:
Menipu adalah dosa karena merugikan orang lain.
Kalimat di atas dapat dipenggal menjadi 2 bagian:
-Menipu adalah dosa.
>> Kesimpulan
-Karena (menipu)
merugikan orang lain. >> Premis Minor, karena bersifat khusus.
Dalam kalimat di atas, premis yang dihilangkan adalah premis mayor. Untuk
melengkapinya kita harus ingat bahwa premis mayor selalu bersifat lebih umum,
jadi tidak mungkin subjeknva "menipu". Kita dapat menalar kembali dan
menemukan premis mayornya: Perbuatan yang merugikan orang lain adalah dosa.
Untuk mengubah entimem menjadi silogisme, mula-mula kita cari dulu
simpulannya. Kata-kata yang menandakan simpulan ialah kata-kata seperti: jadi,
maka, karena itu, dengan demikian, dan sebagainya. Kalau sudah, kita temukan
apa premis yang dihilangkan.
PENALARAN INDUKTIF
Penalaran merupakan pemiikiran, logika, pemahaman. Penalaran adalah proses
berpikir yang dapat menghasilkan pengertian atau kesimpulan. Penalaran
berlawanan dengan panca indera karena, nalar didapat dengan cara berpikir
sehingga dapat mengetahui suatu kebenaran.
Induktif merupakan hal yang dari khusus ke umum.Sehingga dapat dikatakan
berpikir induktif adalah pola berpikir melalui hal-hal yang dari khusus lalu dihubungkan
ke hal-hal yang umum.
Penalaran Induktif adalah Proses yang berpangkal dari peristiwa yang khusus
yang dihasilkan berdasarkan hasil pengamatan empirik dan mengjasilkan suatu
kesimpulan atau pengetahuan yang bersifat umum.
Contoh penalaran induktif :
kucing berdaun telinga berkembang biak dengan melahirkan. kelinci berdaun
telinga berkembang biak dengan melahirkan. Panda berdaun telinga berkembang
biak dengan melahirkan.
Kesimpulan : semua hewan yang berdaun telinga berkembang biak dengan melahirkan.
Pada Penalaran Induktif terdapat beberapa bentuk.
Bentuk-bentuk Penalaran Induktif:
a.)Generalisasi
Generalisasi adalah proses penalaran yang bertolak dari fenomena individual
menuju kesimpulan umum.
Contoh:
Andika Pratama adalah bintang film, dan ia berwajah tamapan.
Raffi Ahmad adalah bintang film, dan ia berwajah tampan.
Generalisasi: Semua bintang film berwajah tampan. Pernyataan “semua bintang
film berwajah tampan” hanya memiliki kebenaran probabilitas karena belum pernah
diselidiki kebenarannya.
Contoh kesalahannya: Sapri juga bintang iklan, tetapi tidak berwajah
tampan.
Macam-macam generalisasi :
1. Generalisasi sempurna: Generalisasi dimana seluruh fenomena yang menjadi
dasar penyimpulan diselidiki.
Contoh: sensus penduduk
2. Generalisasi tidak sempurna: Generalisasi dimana kesimpulan diambil dari
sebagian fenomenayang diselidiki diterapkan juga untuk semua fenomena yang
belum diselidiki.
Contoh: Hampir seluruh pria dewasa di Indonesia senang memakai celana
pantaloon.
Prosedur pengujian generalisasi tidak sempurna. Generalisasi yang tidak
sempurna juga dapat menghasilkan kebenaran apabila melalui prosedur pengujian
yang benar.
b.) Analogi
Analogi dalam ilmu bahasa adalah persamaan antar bentuk yang menjadi dasar
terjadinya bentuk-bentuk yang lain. Analogi merupakan salah satu proses
morfologi dimana dalam analogi, pembentukan kata baru dari kata yang telah ada.
Analogi dilakukan karena antara sesuatu yang diabandingkan dengan
pembandingnya memiliki kesamaan fungsi atau peran. Melalui analogi, seseorang
dapat menerangkan sesuatu yang abstrak atau rumit secara konkrit dan lebih
mudah dicerna. Analogi yang dimaksud adalah anlogi induktif atau analogi logis.
Contoh analogi :
Untuk menjadi seorang pemain bola yang professional atau berprestasi
dibutuhkan latihan yang rajin dan ulet. Begitu juga dengan seorang doktor untuk
dapat menjadi doktor yang professional dibutuhkan pembelajaran atau penelitian
yang rajin yang rajin dan ulet. Oleh karena itu untuk menjadi seorang pemain
bola maupun seorang doktor diperlukan latihan atau pembelajaran.
Jenis-jenis Analogi:
1. Analogi induktif :
Analogi induktif, yaitu analogi yang disusun berdasarkan persamaan yang ada
pada dua fenomena, kemudian ditarik kesimpulan bahwa apa yang ada pada fenomena
pertama terjadi juga pada fenomena kedua. Analogi induktif merupakan suatu
metode yang sangat bermanfaat untuk membuat suatu kesimpulan yang dapat
diterima berdasarkan pada persamaan yang terbukti terdapat pada dua barang
khusus yang diperbandingkan.
Contoh analogi induktif :
Tim Uber Indonesia mampu masuk babak final karena berlatih setiap hari. Maka
tim Thomas Indonesia akan masuk babak final jika berlatih setiap hari.
2. Analogi deklaratif :
Analogi deklaratif merupakan metode untuk menjelaskan atau menegaskan
sesuatu yang belum dikenal atau masih samar, dengan sesuatu yang sudah dikenal.
Cara ini sangat bermanfaat karena ide-ide baru menjadi dikenal atau dapat
diterima apabila dihubungkan dengan hal-hal yang sudah kita ketahui atau kita
percayai.
contoh analogi deklaratif :
deklaratif untuk penyelenggaraan negara yang baik diperlukan sinergitas
antara kepala negara dengan warga negaranya. Sebagaimana manusia, untuk
mewujudkan perbuatan yang benar diperlukan sinergitas antara akal dan hati.
c) Hubungan kausal
penalaran yang diperoleh dari gejala-gejala yang saling berhubungan.
Hubungan kausal (kausalitas) merupakan perinsip sebab-akibat yang sudah pasti
antara segala kejadian, serta bahwa setiap kejadian memperoleh kepastian dan
keharusan serta kekhususan-kekhususan eksistensinya dari sesuatu atau berbagai
hal lainnya yang mendahuluinya, merupakan hal-hal yang diterima tanpa ragu dan
tidak memerlukan sanggahan. Keharusan dan keaslian sistem kausal merupakan
bagian dari ilmu-ilmu manusia yang telah dikenal bersama dan tidak diliputi
keraguan apapun.
Macam hubungan kausal :
1. Sebab- akibat.
Contoh: Penebangan liar dihutan mengakibatkan tanah longsor.
2. Akibat – Sebab.
Contoh: Andri juara kelas disebabkan dia rajin belajar dengan baik.
3. Akibat – Akibat.
Contoh:Toni melihat kecelakaan dijalanraya, sehingga Toni beranggapan
adanya korban kecelakaan.
d.) Hipotesa dan Teori
Hipotese (hypo“di bawah“, tithenai“menempatkan“) adalah semacam teori atau
kesimpulan yang diterima sementara waktu untuk menerangkan fakta-fakta tertentu
sebagai penentu dalam peneliti fakta-fakta tertentu sebagai penuntun dalam
meneliti fakta-fakta lain secara lebih lanjut. Sebaliknya teori sebenarnya
merupakan hipotese yang secara relatif lebih kuat sifatnya bila dibandingkan
dengan hipotese.
Contoh :
Tanzi & Davoodi (1998) membuktikan bahwa dampak korupsi pada
pertumbuhan ekonomi dapat dijelaskan melalui empat hipotesis (semua dalam
kondisi ceteris paribus) :
Hipotesis pertama: tingginya tingkat korupsi memiliki hubungan dengan
tingginya investasi publik. Politisi yang korup akan meningkatkan anggaran
untuk investasi publik. Sayangnya mereka melakukan itu bukan untuk memenuhi
kepentingan publik, melainkan demi mencari kesempatan mengambil keuntungan dari
proyek-proyek investasi tersebut. Oleh karena itu, walau dapat meningkatkan
investasi publik, korupsi akan menurunkan produktivitas investasi publik
tersebut. Dengan jalan ini korupsi dapat menurunkan pertumbuhan ekonomi.
Hipotesis kedua: tingginya tingkat korupsi berhubungan dengan rendahnya
penerimaan negara. Hal ini terjadi bila korupsi berkontribusi pada penggelapan
pajak, pembebasan pajak yang tidak sesuai aturan yang berlaku, dan lemahnya
administrasi pajak. Akibatnya adalah penerimaan negara menjadi rendah dan
pertumbuhan ekonomi menjadi terhambat.
Hipotesis ketiga: tingginya tingkat korupsi berhubungan dengan rendahnya
pengeluaran pemerintah untuk operasional dan maintenance. Seperti yang
diuraikan pada hipotesis pertama, politisi yang korup akan memperjuangkan
proyek-proyek investasi publik yang baru. Namun, karena yang diperjuangkan
hanya proyek-proyek yang baru (demi mendapat kesempatan mencari keuntungan demi
kepentingan pribadi) maka proyek-proyek lama yang sudah berjalan menjadi
terbengkalai. Sebagai akibatnya pertumbuhan ekonomi menjadi terhambat.
Hipotesis keempat: tingginya tingkat korupsi berhubungan dengan kualitas
investasi publik. Masih seperti yang terdapat dalam hipotesis pertama, bahwa
dengan adanya niat politisi untuk korupsi maka investasi publik akan meningkat,
namun perlu digarisbawahi bahwa yang meningkat adalah kuantitasnya, bukan
kualitas. Politisi yang korup hanya peduli pada apa-apa yang mudah dilihat,
bahwa telah berdiri proyek-proyek publik yang baru, akan tetapi bukan pada
kualitasnya. Sebagai contoh adalah pada proyek pembangunan jalan yang dana
pembangunannya telah dikorupsi. Jalan-jalan tersebut akan dibangun secara tidak
memenuhi persyaratan jalan yang baik. Infrastruktur yang buruk akan menurunkan
produktivitas yang berakibat pada rendahnya pertumbuhan ekonomi.
Source :
http://apikgoregrind.blogspot.com/2014/03/pengertian-penalaran-induktif.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar