Karangan karya ilmiah, Metode Ilmiah, Penalaran ilmiah
KARANGAN
KARYA ILMIAH
A.
PENGERTIAN KARANGAN
Karangan adalah bentuk tulisan yang mengungkapkan pikiran dan perasaan
pengarang dalam satu kesatuan tema yang utuh. Karangan diartikan pula dengan
rangkaian hasil pikiran atau ungkapan perasaan ke dalam bentuk tulisan yang
teratur.
Berdasarkan tujuannnya,
jenis karangan dibagi dalam jenis-jenis berikut ini:
·
Karangan narasi: Karangan narasi adalah
karangan yang menceritakan suatu peristiwa atau kejadian dengan tujuan agar
pembaca seolah-olah mengalami kejadian yang diceritakan itu.
·
Karangan deskripsi: Karangan deskripsi
adalah karangan yang menggambarkan sebuah objek dengan tujuan agar pembaca
merasa seolah-olah melihat sendiri objek yang digambarkan itu.
·
Karangan eksposisi: Karangan eksposisi
adalah karangan yang memaparkan sejumlah pengetahuan atau informasi dan
pengetahuan dengan sejelas-jelasnya. Dikemukakan data dan fakta untuk
memperjelas pemaparan.
·
Karangan argumentasi: Karangan argumentasi
adalah karangan yang bertujuan untuk membuktikan suatu kebenaran sehingga
pembaca meyakini kebenaran itu. Pembuktian memerlukan data dan fakta yang
meyakinkan.
·
Karangan persuasi: Karangan persuasi adalah
karangan yang bertujuan untuk mempengaruhi pembaca. Karangan ini pun memerlukan
data sebagai penunjang.
B.
MACAM, SIFAT DAN BENTUK KARANGAN
1. Macam – macam Karangan Ilmiah
Ada berbagai macam karangan
ilmiah, berikut diantaranya :
·
Laporan penelitian. Laporan yang ditulis
berdasarkan penelitian. Misalnya laporan penelitian yang didanai oleh Fakultas
dan Universitas, laporan ekskavasi arkeologis yang dibiayai oleh Departemen
Kebudayaan, dsb.
·
Skripsi. Tulisan ilmiah untuk mendapatkan
gelar akademik sarjana strata satu (Si).
·
Tesis. Tulisan ilmiah untuk mendapatkan
gelar akademik strata dua (S2), yaitu Master.
·
Disertasi. Tulisan ilmiah untuk mendapat
gelar akademik strata tiga (S3), yaitu Doktor.
·
Surat pembaca. Surat yang berisi kritik dan
tanggapan terhadap isi suatu tulisan ilmiah.
·
Laporan kasus. Tulisan mengenai kasus-kasus
yang ada yang dilandasi dengan teori.
2.
Sifat Karangan
Istilah karya ilmiah dan
nonilmiah merupakan istilah yang sudah sangat lazim diketahui orang dalam dunia
tulis-menulis. Berkaitan dengan istilah ini, ada juga sebagian ahli bahasa
menyebutkan karya fiksi dan nonfiksi. Terlepas dari bervariasinya penamaan
tersebut, hal yang sangat penting untuk diketahui adalah baik karya ilmiah
maupun nonilmiah/fiksi dan nonfiksi atau apa pun namanya, kedua-keduanya
memiliki perbedaan yang signifikan. Perbedaan-perbedaan yang dimaksud dapat
dicermati dari beberapa aspek.
1. Karya ilmiah harus
merupakan pembahasan suatu hasil penelitian (faktual objektif). Faktual
objektif adalah adanya kesesuaian antara fakta dan objek yang diteliti.
Kesesuaian ini harus dibuktikan dengan pengamatan atau observasi.
2. Karya ilmiah bersifat
metodis dan sistematis. Artinya, dalam pembahasan masalah digunakan metode atau
cara-cara tertentu dengan langkah-langkah yang teratur dan terkontrol melalui
proses pengidentifikasian masalah dan penentuan strategi.
3. Dalam pembahasannya,
tulisan ilmiah menggunakan ragam bahasa ilmiah. Dengan kata lain, ia ditulis
dengan menggunakan kode etik penulisan karya ilmiah. Perbedaan-perbedaan inilah
yang dijadikan dasar para ahli bahasa dalam melakukan pengklasifikasian.
Selain karya ilmiah dan
nonilmiah yang telah disebutkan di atas, terdapat juga karangan yang berbentuk
semiilmiah/ilmiah populer. Sebagian ahli bahasa membedakan dengan tegas antara
karangan semiilmiah ini dengan karangan ilmiah dan nonilmiah. Finoza (2005:193)
menyebutkan bahwa karakteristik yang membedakan antara karangan semiilmiah,
ilmiah, dan nonilmiah adalah pada pemakaian bahasa, struktur, dan kodifikasi
karangan. Jika dalam karangan ilmiah digunakan bahasa yang khusus dalam di
bidang ilmu tertentu, dalam karangan semiilmiah bahasa yang terlalu teknis
tersebut sedapat mungkin dihindari. Dengan kata lain, karangan semiilmiah lebih
mengutamakan pemakaian istilah-istilah umum daripada istilah-istilah khusus.
Jika diperhatikan dari segi sistematika penulisan, karangan ilmiah menaati
kaidah konvensi penulisan dengan kodifikasi secara ketat dan sistematis,
sedangkan karangan semiilmiah agak longgar meskipun tetap sistematis. Dari segi
bentuk, karangan ilmiah memiliki pendahuluan (preliminaris) yang tidak selalu
terdapat pada karangan semiilmiah.
Berdasarkan karakteristik
karangan ilmiah, semiilmiah, dan nonilmiah yang telah disebutkan di atas, yang
tergolong dalam karangan ilmiah adalah laporan, makalah, skripsi, tesis,
disertasi; yang tergolong karangan semiilmiah antara lain artikel, feature,
kritik, esai, resensi; yang tergolong karangan nonilmiah adalah anekdot,
dongeng, hikayat, cerpen, cerber, novel, roman, puisi, dan naskah drama.
Karya nonilmiah sangat
bervariasi topik dan cara penyajiannya, tetapi isinya tidak didukung fakta
umum. Karangan nonilmiah ditulis berdasarkan fakta pribadi, dan umumnya
bersifat subyektif. Bahasanya bisa konkret atau abstrak, gaya bahasanya
nonformal dan populer, walaupun kadang-kadang juga formal dan teknis.
Karya nonilmiah bersifat,
antara lain :
1. Emotif : merupakan
kemewahan dan cinta lebih menonjol, tidak sistematis, lebih mencari keuntungan
dan sedikit informasi
2. Persuasif : merupakan
penilaian fakta tanpa bukti. Bujukan untuk meyakinkan pembaca, mempengaruhi
sikap cara berfikir pembaca dan cukup informative
3. Deskriptif : merupakan
pendapat pribadi, sebagian imajinatif dan subjektif, dan
4. Jika kritik adakalanya
tanpa dukungan bukti.
3. Bentuk Karangan
a. Karangan ilmiah
Karangan ilmiah adalah
biasa disebut karya ilmiah, yakni laporan tertulis dan diterbitkan yang
memaparkan hasil penelitian atau pengkajian yang telah dilakukan oleh seseorang
atau sebuah tim dengan memenuhi kaidah dan etika keilmuan yang dikukuhkan dan
ditaati oleh masyarakat keilmuan.
Ada berbagai jenis karya ilmiah, antara lain laporan penelitian, makalah
seminar atau simposium, dan artikel jurnal yang pada dasarnya kesemuanya itu
merupakan produk dari kegiatan ilmuwan. Data, simpulan, dan informasi lain yang
terkandung dalam karya ilmiah tersebut dijadikan acuan bagi ilmuwan lain dalam
melaksanakan penelitian atau pengkajian selanjutnya.
Di perguruan tinggi,
khususnya jenjang S1, mahasiswa dilatih untuk menghasilkan karya ilmiah seperti
makalah, laporan praktikum, dan skripsi (tugas akhir). Skripsi umumnya
merupakan laporan penelitian berskala kecil, tetapi dilakukan cukup mendalam.
Sementara itu, makalah yang ditugaskan kepada mahasiswa lebih merupakan
simpulan dan pemikiran ilmiah mahasiswa berdasarkan penelaahan terhadap
karya-karya ilmiah yang ditulis oleh para pakar dalam bidang persoalan yang
dipelajari. Penyusunan laporan praktikum ditugaskan kepada mahasiswa sebagai
wahana untuk mengembangkan kemampuan menyusun laporan penelitian.
Tujuan karya ilmiah, antara lain:
·
Sebagai wahana melatih mengungkapkan
pemikiran atau hasil penelitiannya dalam bentuk tulisan ilmiah yang sistematis
dan metodologis.
·
Menumbuhkan etos ilmiah di kalangan
mahasiswa, sehingga tidak hanya menjadi konsumen ilmu pengetahuan, tetapi juga
mampu menjadi penghasil (produsen) pemikiran dan karya tulis dalam bidang ilmu
pengetahuan, terutama setelah penyelesaian studinya.
·
Karya ilmiah yang telah ditulis itu
diharapkan menjadi wahana transformasi pengetahuan antara sekolah dengan
masyarakat, atau orang-orang yang berminat membacanya.
·
Membuktikan potensi dan wawasan ilmiah yang
dimiliki mahasiswa dalam menghadapi dan menyelesaikan masalah dalam bentuk
karya ilmiah setelah yang bersangkutan memperoleh pengetahuan dan pendidikan
dari jurusannya.
·
Melatih keterampilan dasar untuk melakukan
penelitian.
Manfaat penyusunan karya ilmiah bagi penulis adalah berikut:
·
Melatih untuk mengembangkan keterampilan
membaca yang efektif;
·
Melatih untuk menggabungkan hasil bacaan
dari berbagai sumber;
·
Mengenalkan dengan kegiatan kepustakaan;
·
Meningkatkan pengorganisasian fakta/data
secara jelas dan sistematis
·
Memperoleh kepuasan intelektual;
·
Memperluas cakrawala ilmu pengetahuan;
·
Sebagai bahan acuan/penelitian pendahuluan
untuk penelitian selanjutnya
b. Karangan Non Ilmiah
Karya
non-ilmiah adalah karangan yang menyajikan fakta pribadi tentang pengetahuan
dan pengalaman dalam kehidupan sehari-hari, bersifat subyektif, tidak didukung
fakta umum, dan biasanya menggunakan gaya bahasa yang popular atau biasa digunakan
(tidak terlalu formal).
Jenis-jenis
yang termasuk karya non-ilmiah, yaitu:
·
Dongeng
·
Cerpen
·
Novel
·
Drama
·
Roman
c. Karangan Semi Ilmiah (Populer)
Karya
tulis semi ilmiah merupakan sebuah penulisan yang menyajikan fakta dan fiksi
dalam satu tulisan yang ditulis dengan bahasa konkret dan formal, kata-katanya
teknis dan didukung dengan fakta umum yang dapat dibuktikan kebenarannya. Karya
tulis ini juga merupakan sebuah penulisan yang menyajikan fakta dan fiksi dalam
satu tulisan dan penulisannya tidak semiformal tetapi tidak sepenuhnya mengikuti
metode ilmiah yang sintesis-analitis karena sering dimasukkan dalam kary tulis
ini. Karya tulis semi ilmiah biasanya digunakan dalam komik, anekdot, dongeng,
hikayat, novel, roman dan cerpen.
C.
CIRI-CIRI KARANGAN ILMIAH
Dalam karya ilmiah ada 4
aspek yang menjadi karakteristik utamanya, yaitu :
a. Struktur Sajian
Struktur sajian karya
ilmiah sangat ketat, biasanya terdiri dari bagian awal (pendahuluan), bagian
inti (pokok pembahasan), dan bagian penutup. Bagian awal merupakan pengantar ke
bagian inti, sedangkan inti merupakan sajian gagasan pokok yang ingin
disampaikan yang dapat terdiri dari beberapa bab atau subtopik. Bagian penutup
merupakan simpulan pokok pembahasan serta rekomendasi penulis tentang tindak
lanjut gagasan tersebut.
b.
Komponen dan Substansi
Komponen karya ilmiah
bervariasi sesuai dengan jenisnya, namun semua karya ilmiah mengandung
pendahuluan, bagian inti, penutup, dan daftar pustaka. Artikel ilmiah yang
dimuat dalam jurnal mempersyaratkan adanya abstrak.
c. Sikap Penulis
Sikap penulis dalam karya
ilmiah adalah objektif, yang disampaikan dengan menggunakan gaya bahasa
impersonal, dengan banyak menggunakan bentuk pasif, tanpa menggunakan kata
ganti orang pertama atau kedua
d.
Penggunaan Bahasa
Bahasa yang digunakan
dalam karya ilmiah adalah bahasa baku yang tercermin dari pilihan kata/istilah,
dan kalimat-kalimat yang efektif dengan struktur yang baku.
Selain ciri-ciri diatas
karangan ilmiah juga mempunyai ciri-ciri, antara lain:
1. Kejelasan. Artinya semua yang dikemukakan tidak samar-samar, pengungkapan
maksudnya tepat dan jernih.
2. Kelogisan. Artinya
keterangan yang dikemukakan masuk akal.
3. Kelugasan. Artinya
pembicaraan langsung pada hal yang pokok.
4. Keobjektifan. Artinya
semua keterangan benar-benar aktual, apa adanya.
5. Keseksamaan. Artinya
berusaha untuk menghindari diri dari kesalahan atau kehilafan betapapun
kecilnya.
6. Kesistematisan. Artinya
semua yang dikemukakan disusun menurut urutan yang memperlihatkan
kesinambungan.
7. Ketuntasan. Artinya
segi masalah dikupas secara mendalam dan selengkap lengkapnya.
D.
CIRI-CIRI KARANGAN NON ILMIAH
Karya
non-ilmiah adalah karangan yang menyajikan fakta pribadi tentang pengetahuan
dan pengalaman dalam kehidupan sehari-hari, bersifat subyektif, tidak didukung
fakta umum, dan biasanya menggunakan gaya bahasa yang popular atau biasa
digunakan (tidak terlalu formal).
Ciri-ciri Karya Tulis Non-Ilmiah:
• Ditulis berdasarkan fakta pribadi.
•
Fakta yang disimpulkan subyektif.
•
Gaya bahasa konotatif dan populer.
•
Tidak memuat hipotesis.
•
Penyajian dibarengi dengan sejarah.
•
Bersifat imajinatif.
•
Situasi didramatisir.
•
Bersifat persuasif.
•
Tanpa dukungan bukti
E.
CIRI-CIRI KARANGAN ILMIAH POPULER
Karangan semi Ilmiah
adalah karangan ilmu pengatahun yang menyajikan fakta umum dan menurut
metodologi panulisan yang baik dan benar, ditulis dengan bahasa konkret, gaya
bahasanya formal, kata-katanya tekhnis dan didukung dengan fakta umum yang
dapat dibuktikan benar atau tidaknya atau sebuah penulisan yang menyajikan
fakta dan fiksi dalam satu tulisan dan penulisannya pun tidak semi-formal
tetapi tidak sepenuhnya mengikuti metode ilmiah yang sintesis-analitis karena
sering dimasukkan karangan non-ilmiah. Maksud dari karangan non-ilmiah tersebut
ialah karena jenis semi ilmiah memang masih banyak digunakan misal dalam komik,
anekdot, dongeng, hikayat, novel, roman dan cerpen.
Ciri-ciri karangan semi
ilmiah atau ilmiah popular, yaitu :
•
Ditulis berdasarkan fakta pribadi
•
Fakta yang disimpulkan subjektif
•
Gaya bahasa formal dan popular
•
Mementingkan diri penulis
•
Melebih-lebihkan sesuatu
METODE
ILMIAH
Tujuan Mempelajari Metode Ilmiah
1.
Untuk meningkatkan keterampilan, baik dalam menulis, menyusun, mengambil
kesimpulan maupun dalam menerapkan prinsip-prinsip yang ada.
2.
Untuk mengorganisasikan fakta
3.
Merupakan suatu pengejaran terhadap kebenaran yang diatur oleh
pertimbangan-pertimbangan logis.
4.
Untuk mencari ilmu pengetahuan yang dimulai dari penentuan masalah, pengumpulan
data yang relevan, analisis data dan interpretasi temuan, diakhiri dengan
penarikan kesimpulan.
5.
Mendapatkan pengetahuan ilmiah (yang rasional, yang teruji) sehingga merupakan
pengetahuan yang dapat diandalkan.
LANGKAH-LANGKAH METODE PENULISAN ILMIAH :
1. Masalah:
berawal dari adanya masalah yang dapat digali dari sumber empiris dan teoretis,
sebagai suatu aktivitas pendahuluan. Agar masalah ditemukan dengan baik
memerlukan fakta-fakta empiris dan diiringi dengan penguasaan teori yang
diperoleh dari mengkaji berbagai literatur relevan.
2. Rumusan
masalah: Masalah yang ditemukan diformulasikan dalam sebuah rumusan masalah,
dan umumnya rumusan masalah disusun dalam bentuk pertanyaan.
3. Pengajuan
hipotesis: Masalah yang dirumuskan relevan dengan hipotesis yang diajukan.
Hipotesis digali dari penelusuran referensi teoretis dan mengkaji hasil-hasil
penelitian sebelumnya.
4. Metode/strategi
pendekatan penelitian: Untuk menguji hipotesis maka peneliti memilih
metode/strategi/pendekatan/desain penelitian yang sesuai.
5. Menyusun
instrumen penelitian: Langkah setelah menentukan metode/strategi pendekatan,
maka peneliti merancang instrumen penelitian sebagai alat pengumpulan data,
misalnya angket, pedoman wawancara, atau pedoman observasi, dan melakukan
pengujian validitas dan reliabilitas instrumen agar instrumen memang tepat dan
layak untuk mengukur variabel penelitian.
6. Mengumpulkan
dan menganalisis data: Data penelitian dikumpulkan dengan Instrumen yang
kemudian dilakukan pengolahan dan analisis data dengan menggunakan alat-alat
uji statistik yang relevan dengan tujuan penelitian atau pengujian secara
kualitatif.
7. Simpulan:
Langkah terakhir adalah membuat simpulan dari data yang telah dianalisis.
Melalui kesimpulan maka akan terjawab rumusan masalah dan hipotesis yang
diajukan dapat dibuktikan kebenarannya
PENALARAN ILMIAH
1. Pengertian Penalaran
Menurut Minto Rahayu, (2007 : 35), “Penalaran adalah proses berpikir yang
sistematis untuk memperoleh kesimpulan atau pengetahuan yang bersifat ilmiah
dan tidak ilmiah. Bernalar akan membantu manusia berpikir lurus, efisien,
tepat, dan teratur untuk mendapatkan kebenaran dan menghindari kekeliruan.
Dalam segala aktifitas berpikir dan bertindak, manusia mendasarkan diri atas
prinsip penalaran. Bernalar mengarah pada berpikir
benar, lepas dari berbagai prasangka emosi dan keyakinan seseorang, karena
penalaran mendidik manusi bersikap objektif,
tegas, dan berani, suatu sikap
yang dibutuhkan dalam segala kondisi”.
Dalam sumber yang sama, Minto Rahayu, (2007 : 35), “Penalaran adalah suatu
proses berpikir yang logis dengan berusaha menghubung-hubungkan fakta untuk memperoleh suatu kesimpulan.
Fakta adalah kenyataan yang dapat diukur dan
dikenali. Untuk dapat bernalar, kita harus mengenali fakta dengan baik dan
benar. Fakta dapat dikenali melalui pengamatan,
yaitu kegiatan yang menggunakan panca indera, melihat, mendengar, membaui,
meraba, dan merasa. Dengan mengamati fakta, kita dapat menghitung, mengukur,
menaksir, memberikan ciri-ciri, mengklasifikasikan, dan menghubung-hubungkan.
Jadi, dasar berpikir adalah klasifikasi”.
Sedangkan Widjono, (2007 : 209), mengungkapkan penalaran dalam beberapa
definisi, yaitu:
1) Proses berpikir logis, sistematis, terorganisasi
dalam urutan yang saling berhubungan sampai dengan simpulan.
2) Menghubung-hubungkan fakta atau data sampai dengan suatu simpulan.
3) Proses menganalisis
suatu topik sehingga menghasilkan suatu simpulan atau pengertian baru.
4) Dalam karangan
terdiri dari dua variabel atau lebih, penalaran dapat diartikan mengkaji,
membahas, atau menganalisis dengan menghubungkan variabel yang dikaji sampai
menghasilkan suatu derajat hubungan dan simpulan.
5) Pembahasan suatu
masalah sampai menghasilkan suatu simpulan yang berupa pengetahuan atau
pengertian baru.
Jadi, dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa penalaran adalah
proses pemikiran yang logis untuk memperoleh kesimpulan berdasarkan fakta yang
relevan (sebenarnya). Atau dengan kata lain, penalaran adalah proses penafsiran
fakta sebagai dasar untuk menghasilkan dan menarik kesimpulan.
2. Unsur Penalaran Penulisan Ilmiah
Menurut Widjono, (2007 : 210), unsur penalaran penulisan ilmiah adalah
sebagai berikut:
·
Topik yaitu ide sentral dalam bidang kajian tertentu yang
spesifik dan berisi sekurang-kurangnya dua variabel.
·
Dasar pemikiran, pendapat, atau fakta dirumuskan
dalam bentuk proposisi yaitu kalimat pernyataan yang dapat dibuktikan
kebenarannya atau kesalahannya.
·
Proposisi mempunyai beberapa jenis, antara lain:
(a) Proposisi empirik yaitu proposisi berdasarkan fakta.
(b) Proposisi mutlak yaitu
pembenaran yang tidak memerlukan pengujian untuk menyatakan benar atau
salahnya.
(c) Proposisi hipotetik yaitu persyaratan huungan subjek dan
predikat yang harus dipenuhi.
(d) Proposisi kategoris yaitu tidak
adanya persyaratan hubungan subjek dan predikat.
(e) Proposisi positif universal yiatu pernyataan positif yang mempunyai kebenaran mutlak.
(f) Proposisi positif parsial yaitu pernyataan bahwa sebagian unsur pernyataan tersebut bersifat positif.
(g) Proposisi negatif universal, kebalikan dari proposisi positif universal.
(h) Proposisi negatif parsial, kebalikan dari proposisi negatif parsial.
·
Proses berpikir ilmiah yaitu kegiatan yang dilakukan
secara sadar, teliti, dan terarah menuju suatu kesimpulan.
·
Logika yaitu metode pengujian ketepatan penalaran, penggunaan
argumen (alasan), argumentasi (pembuktian), fenomena, dan justifikasi
(pembenaran).
·
Sistematika yaitu seperangkat proses atau bagian-bagian atau
unsur-unsur proses berpikir ke dalam suatu kesatuan.
·
Permasalahan yaitu pertanyaan yang harus dijawab (dibahas) dalam
karangan.
·
Variabel yaitu unsur satuan pikiran dalam sebuah topik yang
akan dianalisis.
·
Analisis (pembahasan, penguraian) dilakukan dengan
mengidentifikasi, mengklasifikasi, mencari hubungan (korelasi), membandingkan,
dan lain-lain.
·
Pembuktian (argumentasi) yaitu proses pembenaran bahwa proposisi
itu terbukti kebenarannya atau kesalahannya. Pembuktian ini harus disertai
dukungan yang berupa: metode analisis baik yang bersifat manual maupun yang
berupa software. Selain itu,
pembuktian didukung pula dengan data yang mencukupi, fakta, contoh, dan hasil
analisis yang akurat.
·
Hasil yaitu akibat yang ditimbulkan dari sebuah analisis
induktif atau deduktif.
·
Kesimpulan (simpulan) yaitu penafsiran atas hasil
pembahasan, dapat berupa implikasi atau inferensi.
3. Jenis Penalaran
Minto Rahayu, (2007 : 41), penalaran dapat dibedakan dengan cara induktif
dan deduktif.
1)
Penalaran induktif
Ialah proses berpikir yang bertolak dari satu atau sejumlah fenomena atau
gejala individual untuk menurunken suatu kesimpulan (inferesi) yang berlaku
umum.
Proses induksi dapat dibedakan menjadi:
Generalisasi ialah proses berpikir berdasarkan
pengamatan atas sejumlah gejala dengan sifat-sifat tertentu untuk menarik
kesimpulan umum mengenai semua atau sebagian dari gejala serupa.
·
Analogi ialah suatu proses berpikir untuk menarik kesimpulan
atau inferensi tentang kebenaran suatu gejala khusus berdasarkan beberapa
gejala khusus lain yang memiliki sifat-sifat atau ciri-ciri esensial penting
yang bersamaan.
·
Sebab akibat, prinsip umum hubungan sebab akibat menyatakan bahwa
semua peristiwa harus ada penyebabnya.
2)
Penalaran deduktif
Ialah proses berpikir yang bertolak dari prinsip, hukum, putusan yang
berlaku umum tentang suatu hal atau gejala atas prinsip umum tersebut ditarik
kesimpulan tentang sesuatu yang khusus, yang merupakan bagian dari hal atau
gejala diatas.